Wednesday, December 16, 2015

Kesombongan Iblis dan Janjinya untuk menyesatkan manusia

Tafsir Shaad Ayat 71-88 Ayat 71-88:

Penjelasan tentang penciptaan Adam ‘alaihis salam, kesombongan Iblis, peringatan terhadap godaan setan, tugas Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan menerangkan tentang ancaman bagi orang-orang kafir .

Terjemah Surat Shaad Ayat 71-88

 إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ (٧١) فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ (٧٢) فَسَجَدَ الْمَلائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ (٧٣) إِلا إِبْلِيسَ اسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ (٧٤)قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ (٧٥) قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ (٧٦)قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ (٧٧) وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي إِلَى يَوْمِ الدِّينِ (٧٨) قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (٧٩)قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (٨٠) إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ (٨١) قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (٨٢) إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (٨٣)قَالَ فَالْحَقُّ وَالْحَقَّ أَقُولُ (٨٤) لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنْكَ وَمِمَّنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ أَجْمَعِينَ (٨٥) قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ (٨٦) إِنْ هُوَ إِلا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ (٨٧) وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَأَهُ بَعْدَ حِينٍ (٨٨) 

71  [1](Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah[2].”

 72. Kemudian apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan roh (ciptaan)-Ku kepadanya[3]; maka tunduklah kamu dengan bersujud[4] kepadanya[5].”

 73. Lalu para malaikat itu bersujud semuanya,

 74. kecuali Iblis; ia menyombongkan diri[6] dan ia termasuk golongan yang kafir[7].

 75. Allah berfirman[8], "Wahai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua Tangan-Ku[9]. Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?"

 76. (Iblis) berkata[10], "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah[11].”

 77. Allah berfirman, "Kalau begitu keluarlah kamu dari surga[12]! Sesungguhnya kamu adalah makhluk yang terkutuk[13], 

78. Dan sungguh, kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.”

 79. Iblis berkata, "Ya Tuhanku, tangguhkanlah aku sampai pada hari mereka dibangkitkan[14].”

 80. Allah berfirman[15], "Maka sesungguhnya kamu termasuk golongan yang diberi penangguhan, 

81. sampai pada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat).”

82. (Iblis) menjawab[16], "Demi kemuliaan-Mu[17], pasti Aku akan menyesatkan mereka semuanya,
83. Kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka[18].

84. Allah berfirman, "Maka yang benar (adalah sumpah-Ku), dan hanya kebenaran itulah yang Aku katakan[19].

85. [20]Sungguh, Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan kamu dan dengan orang-orang yang mengikutimu di antara mereka semuanya.

86. [21]Katakanlah (Muhammad), "Aku tidak meminta imbalan sedikit pun kepadamu atasnya (dakwahku) dan aku bukanlah termasuk orang yang mengada-ada[22].

87. Al Quran ini tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam[23].

88. Dan sungguh, kamu akan mengetahui (kebenaran) beritanya (Al Qur’an) setelah beberapa waktu lagi[24].”

_______________________________________________________________________________

 [1] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan tentang perbantahan para malaikat, lihat pula surah Al Baqarah: 30.

 [2] Yaitu Adam ‘alaihis salam bapak manusia.

 [3] Sehingga menjadi hidup. Disandarkan ruh kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala adalah sebagai pemuliaan kepada Adam alaihis salam, sebagaimana disandarkannya kata bait (rumah) kepada Allah sehingga menjadi Baitullah (rumah Allah), yang menunjukkan keistimewaan rumah tersebut.

 [4] Yakni sujud penghormatan, bukan sujud ibadah.

 [5] Maka para malaikat mempersiapkan diri mereka untuk itu karena mengikuti perintah Tuhan mereka dan sebagai penghormatan kepada Adam ‘alaihis salam. Ketika penciptaannya telah selesai baik badan maupun ruhnya dan Allah hendak menguji kepandaian Adam dan malaikat dalam hal ilmu, maka tampak jelaslah kepandaian Adam daripada malaikat, dan Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan para malaikat untuk sujud.

 [6] Terhadap perintah Tuhannya dan terhadap Adam alaihis salam.

 [7] Dalam ilmu Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

 [8] Mencela Iblis.

 [9] Yani yang telah Aku muliakan dan istimewakan dengan menciptakannya dengan kedua Tangan-Ku, di mana hal ini mengharuskan kamu untuk tidak sombong terhadapnya.

 Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Mujahid, di mana ia menceritakan dari Ibnu Umar, bahwa ia berkata:

 خَلَقَ اللهُ أَرْبَعَةً بِيَدِهِ: الْعَرْشَ، وَعَدْنَ، وَالْقَلَمَ، وآدَمَ ثُمَّ قَالَ لِكُلِّ شَيْءٍ كُنْ فَكَانَ 

 “Allah menciptakan empat makhluk dengan Tangan-Nya, yaitu: Arsy, surga ‘Adn, Qalam (pena), dan Adam. Kemudian Dia berfirman kepada segala sesuatu, “Jadilah!” Maka jadilah ia.”

 [10] Menentang Tuhannya.

 [11] Ia menyangka bahwa api lebih baik daripada tanah. Ini adalah qiyas yang fasid (rusak), karena api adalah materi yang buruk, rusak, tinggi, tidak terarah, dan ringan. Sedangkan tanah adalah materi yang tenang, tawadhu’, menumbuhkan tumbuhan, dan ia mengalahkan api dan memadamkannya, sedangkan api butuh kepada materi yang menegakkannya, adapun tanah berdiri sendiri.

 [12] Ada pula yang mengatakan, dari langit dan dari tempat yang mulia.

 [13] Yakni terusir.

 [14] Hal ini karena kedengkiannya dan kerasnya permusuhannya kepada Adam dan keturunannya agar ia dapat menyesatkan manusia yang telah ditaqdirkan Allah akan sesat.

 [15] Mengabulkan permohonan-Nya karena sesuai dengan kebijaksanaan-Nya.

 [16] Setelah Iblis mengetahui bahwa dirinya diberi penangguhan, maka ia memperlihatkan sikapnya yang buruk kepada Tuhannya karena permusuhannya kepada Allah, kepada Adam dan kepada keturunannya.

 [17] Huruf ba’ di ayat ini bisa berarti qasam (sumpah), yakni Iblis bersumpah dengan keperkasaan Allah untuk menyesatkan manusia. Bisa juga untuk istianah (minta bantuan), yakni karena Iblis mengetahui bahwa dirinya lemah dari berbagai sisi, dan bahwa dia tidak dapat menyesatkan seorang pun kecuali jika dikehendaki Allah Ta’ala, maka dia meminta bantuan dengan keperkasaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala untuk menyesatkan keturunan Adam itu. Ya Allah, kami adalah keturunan Adam yang sedang dicari kesempatan oleh Iblis dan tentaranya agar dia dapat menyesatkan kami, kami meminta tolong dengan keperkasaan-Mu dan kekuasaan-Mu yang besar serta rahmat-Mu yang luas agar Engkau membantu kami memeranginya, selamat dari tipu dayanya, dan kami berbaik sangka kepada-Mu bahwa Engkau akan mengabulkan permohonan kami dan kami beriman kepada janji-Mu bahwa Engkau akan mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepada-Mu, dan kami telah berdoa kepada-Mu sebagaimana Engkau memerintahkan kami, maka kabulkanlah permohonan kami, sesungguhnya Engkau tidak pernah mengingkari janji.

 [18] Yang dimaksud dengan mukhlas di sini ialah orang-orang yang telah diberi taufiq untuk menaati segala petunjuk dan perintah Allah Subhaanahu wa Ta'aala, yaitu orang-orang mukmin. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mukhlas itu.

 [19] Menurut Syaikh As Sa’diy, bahwa maksud firman Allah itu adalah, bahwa kebenaran adalah sifat-Ku dan kebenaran adalah ucapan-Ku.

 [20] Ini adalah jawabul qasam (jawaban dari sumpah di ayat sebelumnya).

 [21] Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menerangkan dalilnya dan menjelaskan jalan yang lurus kepada mereka, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyuruh Rasul-Nya untuk mengatakan seperti yang disebutkan dalam ayat di atas.

 [22] Yakni aku bukanlah orang yang mengaku memiliki sesuatu yang tidak aku miliki, dan aku tidak mengatakan sesuatu yang tidak aku ketahui, demikian pula aku tidak mengikuti selain yang telah diwahyukan kepadaku. Masruq pernah berkata, “Kami datang kepada Abdullah bin Mas’ud, lalu ia berkata, “Wahai manusia, barang siapa yang mengetahui sesuatu maka katakanlah, namun barang siapa yang tidak mengetahui, ucapkanlah “Allahu a’lam” (Allah lebih mengetahui). Karena termasuk ilmu seseorang mengatakan terhadap sesuatu yang tidak diketahuinya, “Allahu a’lam”, Allah Azza wa Jalla berfirman kepada Nabi kalian, “Katakanlah (Muhammad), "Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas dakwahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang takalluf (membebani diri).”

 [23] Yakni Al Qur’an merupakan pengingat terhadap sesuatu yang bermanfaat bagi mereka baik yang terkait dengan maslahat dunia maupun agama, sehingga Al Quran merupakan peninggi keadaan alam semesta dan sebagai hujjah bagi mereka yang tetap menentang padahal mengetahui.

 [24] Kebenaran berita-berita Al Quran itu ada yang terlaksana di dunia dan ada pula yang terlaksana di akhirat; yang terlaksana di dunia seperti kebenaran janji Allah kepada orang-orang mukmin bahwa mereka akan menang dalam peperangan dengan kaum musyrikin, dan yang terlaksana di akhirat seperti kebenaran janji Allah tentang balasan atau perhitungan yang akan dilakukan terhadap manusia. Syaikh As Sa’diy berkata, “Surat yang agung ini mengandung peringatan yang bijaksana, berita yang besar, penegakkan hujjah dan dalil bagi orang-orang yang mendustakan Al Qur’an dan menentangnya, serta mendustakan orang yang membawanya, sekaligus pemberitahuan tentang hamba-hamba Allah yang mukhlas, balasan bagi orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang durhaka. Oleh karena itu Allah bersumpah di awalnya, bahwa ia mengandung peringatan dan di akhirnya Allah menyifatinya bahwa ia peringatan bagi alam semesta. Demikian pula Allah Subhaanahu wa Ta'aala memperbanyak peringatan di antara awal dan akhir surat, seperti firman-Nya, “Wadzkur ‘abdnaa”, “Wadz kur ibaadanaa”, “Rahmatan min indinaa wa dzikraa”, dan “Haadzaa dzikr.” Ya Allah, ajarilah kami darinya sesuatu yang tidak kami ketahui, ingatkanlah kami sesuatu yang kami lupa, baik lupa dalam arti lalai maupun meninggalkannya.”

 Selesai tafsir surah Shaad dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya, bukan karena kemampuan dan usaha kami, wal hamdulillahi Rabbil ‘aalamiin.

Petikan dari :  http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-shaad-ayat-71-88.html#sthash.JFC47ZCk.dpuf

Tuesday, December 15, 2015

Kisah Nabi Ayyub as. dalam Surat Shaad ayat 41-44


وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ (٤١)
Artinya :
Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, "Sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan bencana.”


ارْكُضْ بِرِجْلِكَ هَذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ (٤٢)
Artinya :
(Allah berfirman), "Hentakkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.”


وَوَهَبْنَا لَهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنَّا وَذِكْرَى لأولِي الألْبَابِ     (٤٣)
Artinya :
Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan Kami lipat-gandakan jumlah mereka sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran sehat.


وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِهِ وَلا تَحْنَثْ إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ (٤٤)
Artinya :
Dan ambillah seikat (rumput) dengan tanganmu, lalu pukullah dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah). 

Tafsir ayat ke 41-43 :

Nabi Ayyub adalah seorang nabi yang selalu menyebut-nyebut nama Allah SWT, yang karena itu syetan membencinya, hingga membuat Nabi Ayyub miskin dan disakiti.

Namun Allah SWT berkata kepada Nabi Ayyub as. “Hai Ayyub, hentakkan kakimu ke bumi!”

Nabi Ayyub as. langsung menghentakkan kakinya ke tanah, tiba-tiba tanah tersebut mengeluarkan sumber air hingga menjadi mata air.

Dan Allah SWT berkata lagi kepada Nabi Ayyub as. “Inilah tempat mandi yang dingin dan tempat minum.”

Nabi Ayyub as lalu mandi dan minum dari mata air tersebut, pada saat itu juga penyakit yang ada di tubuh Nabi Ayyub menghilang.

***

Dahulu Nabi Ayyub adalah golongan Nabi yang kaya raya, memiliki unta, domba, dan sapi yang banyak. Memiliki emas yang banyak dan harta benda yang tak terhitung jumlahnya. Meskipun begitu Nabi Ayyub as sangat taat kepada Allah SWT dan penuh dengan kesabaran, tidak kufur nikmat. Namun Iblis tidak menyukai hal itu, dia memiliki hasut yang besar, dia mengajak anak cucunya (syetan-syetan) untuk menguji Nabi Ayyub as.

Setelah itu Iblis dan syetan syetan menghabiskan seluruh harta benda nabi ayyub as hingga habis tak tersisa. Tapi Nabi Ayyub sama sekali tidak kecewa ataupun menyesal, malah berkata “Alhamdulillah..”
Lalu rumahnya Nabi Ayyub as, dirubuhkan oleh syetan hingga menimpa seluruh anak-anak Nabi Ayyub, hingga semuanya meninggal dunia. Namun sekali lagi nabi ayyub berkata“Alhamdulillah..”

Dan pada akhirnya Iblis merubah dirinya menjadi seekor ulat yang masuk ke kulit nabi ayyub as, hingga sekujur tubuh Nabi Ayyub penuh dengan luka borok akibat ulat (iblis) tadi, yang lukanya itu mengeluarkan bau busuk. Akhirnya oleh penduduk desa, Nabi Ayyub as diusir dari desa tempat dia tinggal dan diasingkan, tidak ada yang mau mendekatinya kecuali istrinya yang bernama Rohmah. 

Setelah tujuh tahun nabi ayyub mengalami cobaan tersebut, Nabi Ayyub berdo’a kepada Allah SWT.

 رَبِّ اِنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ


Lalu Allah SWT berkata kepada nabi ayyub, seperti diawal tadi. Nabi ayyub diperintahkan untuk menghentakkan kakinya ke bumi, sehingga muncul mata air dari dalam bumi, yang kemudian ia gunakan untuk mandi dan minum, seperti kisah di awal tadi.

Seketika itu juga Allah SWT menghilangkan seluruh luka yang ada disekujur tubuh nabi ayyub as, sembuh total bahkan kembali menjadi muda lagi, menjadi lebih tampan, dan dikembalikan lagi seluruh harta bendanya yang diambil syetan, dan dihidupkan lagi putra putrinya yang meninggal, bahkan ditambahi putra dan putri lagi, yang sebelumnya memiliki 7 orang putra dan 7 orang putri, akhirnya  menjadi 14 orang putra dan 14 orang putri, hingga jumlahnya 28 orang anak. 

Wallahu’alam.

***
Tafsir ayat ke 44 :

Nabi Ayyub pernah berjanji akan menghukum istrinya dengan 100 pukulan karena istri tercintanya yang bernama Rohmah pernah datang ke dukun, yang dukun tersebut tidak lain adalah iblis yang menyamar. Dikisahkan dukun tersebut mampu mengobati segala penyakit apapun. Karena melihat Nabi Ayyub as yang tidak kunjung sembuh, Rohmah tertarik untuk pergi ke dukun tersebut, menanyakan obat apa yang dapat menyembuhkan Nabi Ayyub as. Dukun tersebut menjawab bahwa nabi Ayyub akan sembuh jika meminum khamar (minuman keras). Lalu disampaikanlah hal itu kepada nabi ayyub oleh istrinya.

Nabi Ayyub langsung marah besar hingga berjanji akan menghukum istrinya dengan 100 pukulan. Saat Nabi Ayyub sembuh dari penyakitnya atas izin Allah SWT. Nabi Ayyub teringat akan janjinya tersebut, namun Nabi Ayyub as tidak tega untuk memukul istrinya, yang selalu ada disampingnya, selalu merawatnya, ketika ia sakit keras bahkan mengeluarkan bau busuk. Nabi Ayyub tidak tega, maka turunlah ayat ke 44 tersebut.  

"Dan ambillah seikat (rumput) dengan tanganmu, lalu pukullah dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah)."

Nabi Ayyub as mengambil rumput seikat genggaman tangan, lalu dipukulkan kepada istrinya 100 pukulan, sehingga Nabi Ayyub tidak melanggar sumpahnya sekaligus tidak melukai istrinya, sungguh Maha Bijaksana Allah SWT.

Sekian kisah Nabi Ayyub as, kisahnya akan dilanjutkan di pertemuan ngaji berikutnya.

Petikan dari http://kopi-giras.blogspot.com/2014/04/kisah-nabi-ayub-as-dalam-surat-shaad.html?m=1

Thursday, December 3, 2015

INGATLAH AKAN AMARAN ALLAH INI WAHAI BANI ISRAEL, PALESTIN PASTI AKAN MENANG!

Terjemahan di dalam bahasa Melayu bermaksud:
[Al-Isra':4] Dan Kami menyatakan kepada Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan melakukan kerosakan di bumi (Palestin) DUA KALI, dan sesungguhnya kamu akan berlaku sombong angkuh dengan melampau.
[Al-Isra':5] Maka apabila sampai masa janji (membalas kederhakaan kamu) kali yang PERTAMA dari dua itu, Kami datangkan kepada kamu hamba-hamba Kami yang kuat gagah** dan amat ganas serangannya lalu mereka menjelajah di segala ceruk rantau (membinasakan kamu); dan (sebenarnya peristiwa itu) adalah satu janji yang tetap berlaku.......(**Kisah pembebasan BaitulMaqdis oleh pahlawan Islam agung Salehuddin Al-Ayubi- Wallahu'alam, kerana terdapat bermcm2 version)
[Al-Isra':6] Kemudian (setelah kamu bertaubat), Kami kembalikan kepada kamu kekuasaan untuk mengalahkan mereka, dan Kami beri kepada kamu dengan banyaknya harta kekayaan dan anak pinak, serta Kami jadikan kamu kaum yang lebih ramai pasukannya.
[Al-Isra':7] Jika kamu berbuat kebaikan, (maka) kebaikan yang kamu lakukan adalah untuk diri kamu; dan jika kamu berbuat kejahatan, maka (kesannya yang buruk) berbalik kepada diri kamu juga. Oleh itu, apabila sampai masa janji (membalas perbuatan derhaka kamu) KALI KEDUA, (Kami datangkan musuh-musuh kamu) untuk memuramkan muka kamu (dengan penghinaan dan keganasannya); dan untuk memasuki masjid (BaitulMaqdis) sebagaimana mereka telah memasukinya pada KALI YG PERTAMA; dan untuk menghancurkan apa sahaja yang mereka telah kuasai, dengan sehancur-hancurnya.

[Al-Isra':8] Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat(Nya) kepadamu; dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan) niscaya kami kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka Jahanam penjara bagi orang-orangt yang tidak beriman.



Monday, November 30, 2015

MUKJIZAT NABI MUHAMMAD SAW YANG BERSUARA MERDU

Di antara utusan Allah SWT, Nabi Dawud salah satu nabi yang dipuji oleh Rasulullah SAW. Kelebihan nabi Dawud ialah, beliau perintis Baitul Maqdis (Masjid Al-Aqsa), pembuat baju perang pertama dari bahan besi, sekaligus ahli strategi perang. Bukan hanya urusan Negara, Nabi Dawud sangat rajin berpuasa. Sampai-sampai, Nabi SAW mensyariatkan puasa Dawud. Puasa Dawud itu prakteknya ialah sehari puasa, sehari berbuka). Nabi SAW juga rajin sholat malam, dengan istilah Tahajud Model Nabi Dawud. Tidur sebenar, kemudian bagun menunaikan ibadah, tidur lagi sebentar, kemudian bangun lagi  untuk menunaikan sholat sunnah. Ada ke-istimewaan yang dimiliki Nabi Dawud as, yaitu suara indah nan merdu. Sampai-sampai Nabi SAW memujinya.
Suatu ketika, Daud as akan membaca kitab suci Zabur. Sudah menjadi tradisi, bila Daud AS akan membaca Zabur kaum Israil, jin, hewan dan tumbuhan serta bukit dan gunung-gunung ikut serta mendengarnya.
Bani Isaril sebagai pengikut setia Dawud berada di baris kedua (di belakang Daud AS). Sedangkan pa Jin yang juga menjadi pengikut berada dibelakang Nabi Dawud juga. Sedangkan semua hewan yang terdiri binatang darat dan udara (burung-burung), berada langsung dihadapan  Daud AS. Semua jenis burung sudah bertengger di atas kepala kaum Israil menunggu bacaan Daud AS. Karena betapa merdunya, banyak dari Bani Israil yang tidak kuat menahan keindahan suara Dawud as.
Terkait dengan Mu’jizat Nabi Dawud,Rasulullah SAW pernah mengatakan kepada Abu Musa Al-Asary terkait dengan indah dan merdunya bacaannya:’’ Sesungguhnya ia (Abu Musa) telah dianugerahi suara merdu seperti suara merdu milik keluarga Nabi Dawud (HR Abu Ya’la).
Jika Nabi Dawud memiliki suara indah nan merdu, ternyata Nabi SAW juga memiliki suara yang begitu merdu. Suara itu termasuk mu’jizat Rasulullah SAW. Siapapun yang pernah mendengar Nabi SAW membaca Al-Quran, baik ketika dalam sholat maupun diluar sholat, pasti akan merasa nayaman, tentram dan menyejukkan. Tidak satupun dari sahabat yang pernah menderngar suara Nabi SAW ketika sholat berjamaah atau diluar sholat. Kecuali mereka akan terus berusaha menjadi ma’mun setia sholat bersama Rasulullah SAW
Oleh karena itulah, Nabi SAW menganjurkan dan mengajarkan kepada para qurro (pembaca Al-Quran). QS  Al-Muzammil (73:4) Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan (Tartil)’. Dalam sebuah penjelasan hadis dikatakan bahwa Allah tidak mengutus seorang Nabi melainkan bermuka tampan dan bersuara merdu. Sedangkan Nabimu adalah yang terbagus raut mukanya dan merdu suaranya;’’(HR. At-Tirmidzi).
Di jaman Nabi SAW tidak ada speaker (pengeras suara), tetapi suara Rasulullah SAW mampu menembus setiap telingga sahabat yang mendengarkan,walapun jaraknya begitu jauh. Ratusan, bahkan ribuan sahabat, ketika Nabi SAW menyampaikan ceramah (khutbah), semua bisa mendengarkan pesan Rasulullah SAW. Jadi, tidak hanya merdu suaranya, lebih dari itu suara Nabi SAW memiliki kekuatan yang amat hebat, sehingga orang-orang jauh pun bisa mendengar suara Rasulullah SAW.

Seorang sahabat yang bernama Ummu Hani menceritakann bahwa pada suatu malam ketika dirinya sedang membaringkan punggung di rumahnya. Suasana ketika itu cukup sepi, namun tiba-tiba ia mendengar suara Rasulullah SAW. Ummu Hani merasa heran, dari itu ia mencoba mencari-cari Rasulullah SAW di rumahnya. Namun ternyata Rasulullah SAW tidak ada di rumahnya saat itu.
Pada saat yang bersamaan, ternyata Rasulullah SAW ketika itu sedang berada di sisi Ka’bah. Sedangkan rumah Ummu Hani dan Ka’bah memiliki jarak yang cukup jauh sekali. Ummu Hani menceritakan apa yang disabdakan Nabi SAW adalah sebagai berikut.
Rasulullah SAW bersabda:’’Wahai orang-orang yang beriman, dengan lidahnya dan tak memurnikan keimanan dari hatinya, janganlah kalian memfitnah kaum muslimin dan janganlah kalian mencari-cari cacatnya. Dan barangsiapa yang cacatnya dicari-cari oleh Allah SWT, maka Dia akan membuka kejeleka


KISAH BILAL SANG MUADZIN RASULULLAH YANG MENYENTUH HATI

Kisah inj cukup menyentuh hatiku, sehingga aku pun inda dapat menahan tangis, semoga kisah ini dapat menyedarkan kita betapa beerti nya azan dikumandangkan bagi kita.


Bilal bin Rabah adalah seorang budak yang berasal dari Habasyah (sekarang disebut Ethiopia). Bilal dilahirkan di daerah Sarah kira-kira 34 tahun sebelum hijrah dari seorang ayah yang dikenal dengan panggilan Rabah. Sedangkan ibunya dikenal dengan Hamamah. Masa kecil Bilal dihabisakan di Mekah, sebagai putra dari seorang budak, Bilal melewatkan masa kecilnya dengan bekerja keras dan menjadi budak. Sosok Bilal digambarkan sebagai seorang yang berperawakan khas Afrika yakni tingbgi, besar dan hitam. Dia menjadi budak dari keluarga bani Abduddar. Kemudian saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang yang menjadi tokoh penting kaum kafir.

Bilal termasuk orang yang teguh dengan pendiriannya. Ketika Rasulullah Saw mulai menyampaikan risalahnya kepada penduduk Mekah, Bilal telah lebih dahulu mendengar seruan Rasulullah saw yang membawa agama Islam, yang menyeru untuk beribadah kepada Allah yang Esa, dan meninggalkan berhala. Maka Bilal-pun pergi menghadap Rasulullah saw untuk mengikrarkan diri masuk Islam karena Allah Tuhan semesta alam, kemudian menyebarlah perihal masuknya Bilal kedalam agama Islam diseluruh penjuru kota Mekah, hingga sampai kepada tuannya Umayyah bin Khalaf dan menjadikannya marah sekali sehingga ingin menyiksanya dengan sekeras-kerasnya. Bilal termasuk golongan orang yang pertama-tama masuk Islam. Masuknya Bilal ke dalam ajaran Islam mengakibatkan penderitaan yang mendalam karena berbagai siksaan yang diterima dari majikannya. Apalagi sang majikan Umayyah bin Khalaf termasuk tokoh penting kaum kafir Quraisy. 


Penyiksaan kaum kafir Quraisy terhadap para budak yang mustad’afin memang sangat kejam. Hal ini juga dirasakan oleh Bilal bin Rabah yang diperlakukan secara kejam oleh Umayyah bin Khalaf beserta para algojonya. Bilal dicambuk hingga tubuhnya yang hitam tersebut melepuh. Tetapi dengan segala keteguhan hati dan keyakinannya, dia tetap mempertahankan keimanannya meski harus menahan berbagai siksaan tanpa bisa melawan sedikitpun. Setiap kali dia dicambuk, dia hanya bisa mengeluarkan kata-kata: “Ahad, Ahad (Tuhan Yang Esa)”. Tidak hanya sekedar dicambuk, kemudian Umayyah pun menjemur Bilal tanpa pakaian di tengah matahari yang sangat terik dengan menaruh batu yang besar di atas dadanya. Dengan segala kepasrahan, lagi-lagi Bilal pun hanya bisa berkata: “Ahad, Ahad”

Akhirnya Allah mengakhiri siksaan demi siksaan yang dialami oleh Bilal melalui Abu Bakar As Shiddiq. Suatu hari, disaat Bilal kembali disiksa oleh majikannya Umayyah, Abu Bakar sedang lewat tidak jauh dari tempat penyiksaannya. Melihat hal tersebut, Abu Bakar bermaksud membeli Bilal dari Umayyah bin Khalaf. Lalu Umayyah pun meninggikan harganya karena ia menduga bahwa Abu Bakar tidak akan mampu untuk membayarnya. Namun Abu Bakar mampu membayarnya dengan 9 awqiyah dari emas. Begitu Abu Bakar As Shiddiq memberitahukan Rasulullah Saw bahwa dia telah membeli Bilal dan menyelamatkannya dari tangan penyiksa, maka Nabi Saw bersabda: 

“Libatkan aku dalam pembebasannya, wahai Abu Bakar!” 

As Shidiq lalu menjawab

“Aku telah membebaskannya, ya Rasulullah.”

Begitulah akhirnya Bilalpun menjadi seorang yang merdeka dan selamat dari siksaan sang majikan. Kebebasannya menjadikan Bilal seorang yang semakin taat mengikuti ajaran agama Allah dan Rasul-Nya. Ketika Rasulullah Saw berhijrah ke Madinah. Bilal pun turut serta berhijrah ke Madinah untuk menjauhi siksaan kaum kafir Quraisy Mekah. Dia mengabdikan diri sepanjang hidupnya kepada Rasul yang sangat dicintainya. Dia menjadi pengikut Rasul yang setia dan selalu mengikuti setiap peperangan yang terjadi pada masa itu.

Ketika Rasulullah Saw selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan adzan, maka Bilal bin Rabah ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan adzan (Muazin) dalam sejarah Islam. Bilal pun menjadi Muadzin tetap pada masa Rasulullah Saw. Suaranya yang begitu merdu sangat menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya. Rasulullah sangat menyukai suara Bilal. Biasanya, setelah mengumandangkan adzan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Saw seraya berseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alashsholaati…(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan….)” 

Ketika Rasulullah Saw akan menaklukkan kota Mekah, Bilal berada di samping beliau. Saat Rasulullah Saw memasuki Ka’bah, Kemudian Rasulullah Saw menyuruh Bilal untuk naik di atas ka’bah dan menyerukan kalimat tauhid. Bilal menyerukan adzan dengan suara yang keras dan menggetarkan hati setiap orang yang mendengarnya. Ribuan leher manusia melihat ke arah Bilal. Ribuan lisan manusia yang mengikuti ucapan Bilal dengan hati yang khusyuk. 

Begitulah sosok Bilal, dia selalu berada di belakang Rasulullah dalam kondisi apapun. Sampai pada saat Rasulullah Saw menghembuskan nafas terakhir, maka waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan adzan, sementara jasad Rasulullah Saw masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaah” (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir disana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.

Sejak kepergian Rasulullah Saw, Bilal hanya sanggup mengumandangkan adzan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaah” (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Sehingga kaum muslimin yang mendengarnya ikut larut dalam tangisan pilu. Karena itulah kemudian Bilal memohon kepada Abu Bakar, sang khalifah yang menggantikan posisi Rasulullah Saw sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan adzan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah.

Pada suatu hari, ia bermimpi bertemu Rasulullah saw. Dalam mimpinya itu Nabi saw bersabda kepadanya, “Wahai Bilal, apa yang menghalangimu sehingga engkau tidak pernah menjengukku ?” Setelah bangun dari tidurnya, Bilal ra pun segera pergi ke Madinah. Setibanya di Madinah, Hasan dan Husain ra meminta Bilal ra agar mengumandangkan adzan. Ia tidak dapat menolak permintaan orang-orang yang dicintainya itu. Ketika ia mulai mengumandangkan adzan, maka terdengarlah suara adzan seperti ketika zaman Rasulullah saw masih hidup. Hal ini sangat menyentuh hati penduduk Madinah, sehingga kaum wanita pun keluar dari rumah masing-masing sambil menangis untuk mendengarkan suara adzan Bilal ra itu. Setelah beberapa hari lamanya Bilal ra tinggal di Madinah, akhirnya ia meninggalkan kota Madinah dan kembali ke Damaskus dan wafat di sana pada tahun kedua puluh Hijriyah.

Pada waktu kedatangan Umar bin Khatthab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal setelah terpisah cukup lama. Dalam pertemuan tersebut khalifah Umar bin Khattab meminta kepada Bilal untuk mau mengumandangkan adzan dan akhirnya Bilal mau menuruti permintaan sang khalifah. Mendengar Bilal menyuarakan adzan, kaum muslimin merasa sangat terharu, bahkan Umar tidak dapat menahan dirinya untuk tidak menangis tersedu-sedu. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Saw. BiIal adalah pengumandang seruan langit itu.

Peristiwa tersebut merupakan adzan terakhir yang diperdengarkan oleh suara merdu dan syahdu Bilal bin Rabah dihadapan kaum muslimin. Bilal tetap tinggal di Damaskus hingga akhir hayatnya. Bilal seringkali mengucapkan kata-kata secara berulang-ulang, kata-kata tersebut adalah:

“Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih…
Muhammad dan sahabat-sahabatnya
Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih…
Muhammad dan sahabat-sahabatnya”

Demikianlah kisah seorang Bilal, keteguhan, ketegaran dan keyakinannya akan ajaran kebenaran, telah mengangkat derajadnya dan menjadikannya seorang mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya meskipun dia berasal dari seorang budak hitam yang hina dan fakir.